Sebuah gerai banh mi atau roti lapis di Ho Chi Minh City, Vietnam, berhasil menarik perhatian pelanggan hingga mereka rela datang jauh sebelum toko dibuka.
Bahkan, sebagian pelanggan memilih mengirim email terlebih dahulu hanya untuk memastikan bisa mendapatkan makanan yang dijual dalam jumlah terbatas.
Menurut VnExpress, Rabu (9/9/2026), gerai tersebut merupakan milik Chad Kubanoff, seorang koki asal Amerika Serikat yang telah tinggal di Vietnam selama sekitar 10 tahun. Ia membuka gerai bánh mì pop-up di kawasan Tan Hung, Ho Chi Minh City.
Sejak mulai berjualan pada 3 Agustus 2026, gerai tersebut langsung mendapat sambutan besar.
Dalam masa percobaan awal, Chad hanya menyediakan 50 porsi bánh mì setiap hari. Jumlah tersebut ternyata jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Menurut Chad, 50 bánh mì yang disiapkan setiap hari bahkan bisa habis hanya dalam waktu sekitar satu jam setelah gerai dibuka.
“Saya tidak menyangka akan ada begitu banyak pengunjung; kami berhasil menjual habis 50 roti hanya dalam satu jam,” kata koki Chad.
Pelanggan rela datang lebih awal
Popularitas banh mi buatan Chad membuat pelanggan harus menyusun strategi agar tidak kehabisan. Ada yang datang satu hingga dua jam sebelum gerai dibuka, sementara pelanggan lainnya memilih mengirim email untuk memesan terlebih dahulu.
Pada 12 Agustus, misalnya, sejumlah pelanggan sudah terlihat mengantre sekitar pukul 08.00, atau satu jam sebelum gerai mulai melayani pembeli.
Dua wisatawan asal Kanada, Bre dan Noah, bahkan rela menunggu hampir dua jam. Keduanya datang sekitar pukul 08.30 setelah sebelumnya dua kali mencoba membeli bánh mì tersebut tetapi gagal mendapatkannya.
Saat ini, operasional gerai masih ditangani langsung oleh Chad bersama istrinya, Thuy Kubanoff. Mereka harus menyiapkan makanan sekaligus melayani pelanggan yang datang.
Thuy mengatakan, pelanggan biasanya mengirim email terlebih dahulu atau datang lebih awal dan bersedia menunggu hingga satu atau dua jam.
Menurutnya, antrean panjang tersebut menjadi tanda bahwa pelanggan benar-benar menghargai makanan yang mereka sajikan.
Bánh Mì dibuat dengan daging panggang arang
Daya tarik utama bánh mì buatan Chad terletak pada isian dagingnya. Setiap hari, gerai tersebut menggunakan sekitar 10 kilogram daging yang telah dimarinasi sejak malam sebelumnya.
Daging baru dipanggang setelah pelanggan melakukan pemesanan. Cara tersebut dilakukan untuk menjaga kesegaran sekaligus menghasilkan tekstur daging yang lebih lembut.
Chad menggunakan bagian daging n?c d?m atau bagian daging babi yang memiliki sedikit lemak. Daging tersebut dipanggang di atas arang sambil diolesi karamel dan disemprot air secara berkala.
Teknik tersebut membuat daging tetap lembap sekaligus menghasilkan bagian luar yang sedikit gosong dan beraroma khas panggangan.
Hanya ada satu jenis Bánh Mì
Berbeda dari banyak gerai banh mi yang menawarkan berbagai pilihan isian, Chad justru hanya menjual satu jenis bánh mì daging panggang.
Satu porsinya dibanderol 88.000 dong Vietnam atau Rp 59.000. Harga tersebut memang lebih tinggi dibandingkan bánh mì yang biasa dijual di pedagang kaki lima.
Selain daging panggang, bánh mì tersebut dilengkapi mayones dengan resep khusus yang memberikan sedikit sensasi pedas. Ada pula sayuran segar dan acar yang dibuat dengan pendekatan khas bánh mì Vietnam.
Setelah selesai diracik, banh mi dipotong menjadi dua bagian kemudian dibungkus menggunakan kertas.
Hasilnya adalah daging yang lembut dan juicy dengan perpaduan rasa gurih serta manis karamel.
Makanan pokok di Vietnam
Menurut Tuoitre.vn, banh mi merupakan kuliner Vietnam yang sudah ada sejak tahun 1861, menurut Van te nghia si Can Giuoc, sebuah karya terkenal penyair Vietnam Nguyen Dinh Chieu, yang menyebutkan para tentara memakan bánh mì.
Menelusuri sejarah lebih jauh ke belakang, roti ini diperkirakan telah tiba di Vietnam jauh lebih awal bersama para misionaris Barat, kapal dagang, dan armada angkatan laut.
Roti ini merupakan makanan yang mudah dibuat dan banyak dikonsumsi di kalangan orang asing yang tiba melalui laut.
Lebih dari tiga abad telah berlalu di tengah berbagai gejolak yang tak terhitung jumlahnya, namun nasi tetap menjadi makanan pokok di meja makan Vietnam.
Bánh mì kemudian berevolusi dari sarapan yang cepat, praktis, dan terjangkau menjadi pilihan untuk makan siang, makan malam, dan bahkan makanan larut malam.
Tags: enak, food, kuliner, macam - macam makanan, resep