Klepon Gianyar termasuk kuliner legendaris Bali yang sudah ada sejak tahun 1980. Klepon tersebut bisa dijumpai di acara Kampung Legendaris di Mal Ciputra Jakarta, Jakarta Barat, sampai Minggu (23/8/2026).
Untuk diketahui, klepon adalah jajanan pasar tradisional berbahan tepung ketan yang dibentuk bulat, diisi gula merah, lalu dibaluri parutan kelapa.
Klepon ini hadir dalam dua warna yakni hijau dan oranye, serta menggunakan isian gula cair.
Saat saya cicipi, teksturnya terasa kenyal sekaligus lembut, dengan rasa manis gula merah yang langsung terasa ketika digigit.
Cerita di balik Klepon Gianyar, kuliner legendaris Bali
Dari juara lomba hingga jamuan tamu negara
Pemilik Klepon Gianyar Sejak 1980, Ida Ayu Putu Laksmi Dewi menuturkan, usaha kuliner ini bermula dari almarhumah Desak Ketut Rai, ibu mertuanya yang menjadi generasi pertama dalam mengelola usaha klepon tersebut.
“Kenapa klepon ini sampai dikenal? Jadi, karena kita mengikuti beberapa perlombaan di Bali sehingga kita dapat sampai juara satu. Mewakili Kabupaten Gianyar ke tingkat provinsi,” kata Idar kepada Kompas.com di Mal Ciputra Jakarta, Jakarta Barat, Rabu (12/8/2026).
Perjalanan tersebut berlanjut ketika Klepon Gianyar mendapat kesempatan membuat aneka jajanan tradisional untuk jamuan tamu negara pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
“Wah, itu memang benar-benar pengalaman yang memang luar biasa ya,” ujar Ida.
Menurut Ida, kesempatan tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan makanan tradisional Bali, khususnya dari Kabupaten Gianyar, kepada tamu-tamu negara.
Klepon Gianyar juga semakin dikenal setelah dikunjungi sejumlah tokoh kuliner.
Chef William Wongso dan mendiang Bondan Winarno disebut kerap mampir ketika berkunjung ke Bali dan memperkenalkan klepon tersebut melalui tayangan televisi.
“Jadi, beliau yang memberikan gelar klepon terenak di dunia, itu istilahnya dari Chef William Wongso, seperti itu, sama Pak Bondan,” kata Ida.
Bertahan lintas generasi, Ida mengatakan, konsistensi cita rasa dan tekstur termasuk hal yang terus dijaga.
“Kemudian dari gula, jadi perpaduan antara manis, asin itu harus seimbang. Jadi, itu nggak boleh kemanisan, nggak juga boleh keasinan,” tutur dia.Salah satu ciri khas Klepon Gianyar juga terletak pada isiannya.
“Dan bedanya dengan yang di Jawa, klepon di sini kan gulanya cair. Kalau di Jawa, nggak, yang diiris-iris,” kata Ida.
Perbedaan lain terletak pada cara membentuk kulit klepon. Adonan kulit Klepon Gianyar dibuat terlebih dahulu menyerupai mangkuk kecil, yang disebut sebagai bentuk “pompongan”, sebelum diisi gula.
“Jadi, buat kulit itu juga enggak boleh terlalu tebal, enggak boleh juga terlalu tipis. Kalau tebal, mungkin matengnya kurang sempurna. Kalau tipis, nanti rawan pecah,” kata dia.
Ramai saat liburan dan upacara di Bali
Ida menjelaskan, permintaan klepon dari Klepon Gianyar Sejak 1980 biasanya meningkat saat akhir pekan, hari besar keagamaan, berbagai upacara di Bali, seperti pernikahan dan ngaben, serta acara pemerintah.
“Ya, kita banyak dari pelanggan-pelanggan Jakarta datang ke Bali. Ada banyak. Jadi, musim liburan udah pasti kita antreannya banyak banget,” jelas Ida.
“Kemudian musim hajatan di Bali itu kita selalu banjir pesanan untuk upacara-upacara. Jadi, banyak yang request isi tiga, isi empat, isi lima,” lanjutnya.
Klepon Gianyar kini dapat ditemukan di sejumlah lokasi di Bali, antara lain ICON Bali Mall, di Sanur, Denpasar; Beachwalk Shopping Center, Kuta, Kabupaten Badung; dan Level 21 Mall, Dauh Puri Klod, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.
“Perkembangannya setiap tahunnya mengalami peningkatan. Tahun ini meningkat sebesar 30 persen dari tahun sebelumnya,” tulis Ida setelah Kompas.com menghubungi lebih lanjut, Selasa (18/8/2026).
Sementara itu, selama acara Kampung Legendaris di Mal Ciputra Jakarta, Jakarta Barat, klepon dijual dalam paket berisi 20 buah dengan harga mulai Rp 55.000.